Satu kutipan mengatakan: "kakekku seorang pelaut". Bagi masyarakat Binongko kalimat ini bukan sekedar isapan jempol. Sejak dahulu, saat anda menjumpai orang Binongko mungkin tidak salah jika saya katakan " sejak jaman dahulu, nenek moyang kami adalah perantau ulung".
Tonton video anak rantau binongko DISINI
Anak Binongko Generasi Pelaut
Apakah bukan pelaut?
Pelaut atau perantau, sama saja. Keduanya adalah keahlian orang-orang Binongko. Ini bukanlah suatu kalimat yabg menyudutkan maksud menyinggung. Tapi, harusnya menjadi satu kebanggaan bahwa kami atau kita orang Binongko adalah sang petualang dan pekerja keras.
Asal muasal dari nenek moyang kami orang Binongko sebagai sang perantau, pelaut dan petualang adalah bukan karena harapan kani ingin menghindari kehidupan terpencil dari sosok pulau kecil yang jauh di bagian tenggara Indonesia. Kami sangat mencintai daerah tempat kami dilahirkan, justru itulah kami datang dan pergi mencari jejak nasib gemilang di tanah rantau untuk kami bawa pulang kembali ketanah tumpah darah kami 'Binongko.
Binongko adalah salah satu dari gugusan pulau besar yang merangkai nama kabupaten Wakatobi. Binongko juga termasuk dalam sumbangsi penting dalam kancah wisata taman laut Wakatobi yang telah dikenal luas di seluruh dunia sebagai jantung segitiga karang dunia.
Watak pulau kecil ini hampir dikuasai oleh hamparan batuan karang seluruhnya, sehingga sulit bagi masyarakat Binongko untuk melakulan cocok tanam sebagai sumber penghasilan. Inilah alasan mengapa banyak orang-orang Binongko memilih merantau kenegeri orang. Wujud pulau ibarat tangguh dengan kondisi bebatuan ini juga mendukung karakter orang-orang Binongko sebagai pejuang tangguh di dalam perantaun. Tidak sedikit kemudian mereka yang merantau jauh disana meninggalkan kampung halaman ini entah menempuh pendidikannya atau berjuang mencari nafkah lalu kembali dengan kabar kesuksesaannya. Walaupun tidak semuanya, tapi kita mengerti bahwa hidup tidak selalu begitu mudah karena semua butuh proses bukan. Tapi kita bisa simpulkan dari wajah dan perkembangan pulau Binongko dari tahun ke tahun, awal mula terisolasi lalu berkembang dan kini menuju proses yang lebih baik.
Kakek kami, bapak kami, kakak kami adalah perantau. Ibu kami mengatakan: apalah artinya benih yang kami tanam dikebun sana, hanyalah cukup untuk makan saja. Jika anak saya ingin bersekolah? Saya dapat dari mana uangnya? Benarkah,?
Jika tidak merantau apalagi jalan keluarnya?
Pelaut atau perantau, sama saja. Keduanya adalah keahlian orang-orang Binongko. Ini bukanlah suatu kalimat yabg menyudutkan maksud menyinggung. Tapi, harusnya menjadi satu kebanggaan bahwa kami atau kita orang Binongko adalah sang petualang dan pekerja keras.
Asal muasal dari nenek moyang kami orang Binongko sebagai sang perantau, pelaut dan petualang adalah bukan karena harapan kani ingin menghindari kehidupan terpencil dari sosok pulau kecil yang jauh di bagian tenggara Indonesia. Kami sangat mencintai daerah tempat kami dilahirkan, justru itulah kami datang dan pergi mencari jejak nasib gemilang di tanah rantau untuk kami bawa pulang kembali ketanah tumpah darah kami 'Binongko.
Binongko adalah salah satu dari gugusan pulau besar yang merangkai nama kabupaten Wakatobi. Binongko juga termasuk dalam sumbangsi penting dalam kancah wisata taman laut Wakatobi yang telah dikenal luas di seluruh dunia sebagai jantung segitiga karang dunia.
Watak pulau kecil ini hampir dikuasai oleh hamparan batuan karang seluruhnya, sehingga sulit bagi masyarakat Binongko untuk melakulan cocok tanam sebagai sumber penghasilan. Inilah alasan mengapa banyak orang-orang Binongko memilih merantau kenegeri orang. Wujud pulau ibarat tangguh dengan kondisi bebatuan ini juga mendukung karakter orang-orang Binongko sebagai pejuang tangguh di dalam perantaun. Tidak sedikit kemudian mereka yang merantau jauh disana meninggalkan kampung halaman ini entah menempuh pendidikannya atau berjuang mencari nafkah lalu kembali dengan kabar kesuksesaannya. Walaupun tidak semuanya, tapi kita mengerti bahwa hidup tidak selalu begitu mudah karena semua butuh proses bukan. Tapi kita bisa simpulkan dari wajah dan perkembangan pulau Binongko dari tahun ke tahun, awal mula terisolasi lalu berkembang dan kini menuju proses yang lebih baik.
Benarkah anak Binongko adalah Generasi perantau?
Kakek kami, bapak kami, kakak kami adalah perantau. Ibu kami mengatakan: apalah artinya benih yang kami tanam dikebun sana, hanyalah cukup untuk makan saja. Jika anak saya ingin bersekolah? Saya dapat dari mana uangnya? Benarkah,?
Jika tidak merantau apalagi jalan keluarnya?
Alasan anak Binongko menjadi Generasi Perantau
Inilah salah satu alasan mengapa kami orang Binongko sebagai Generasi perantau.
Jika saya ingin bersekolah tinggi. Maka saya harus merantau keluar. Sebab dikampung saya hanya mewadahi sampai bangku SMA.
Jika saya ingin berpenghasilan lebih dan membahagian keluarga saya. Maka saya ingin merantau. Ditempat saya tidak ada penghasulan yang memuaskan. Benar?
Pada akhirnya, terciptalah dari kami, dia dan mereka anak-anak yang dilahirkan sebagai Generasi perantau, yang sewaktu-waktu pasti akan keluar dari pulau ini dalam kurun waktu lebih lama. Niat kami untuk menggapai cita-cita dan impian kami.
Pulau Binongko. Masih membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk berbenah dan berproses menjadi maju. Bagaimana mengerucutkan tingkat kecenderungan untuk menjadi Generasi perantau bagi anak anak Binongko adalah menjadi tanggung jawab kita bersama saat ini khususnya Generasi muda anak Binongko. Tingkat kreatifitas kita lebib diuji disini untuk menciptakan lapangan kerja mandiri untuk Binongko lebih baik lagi kedepannnya.
*postingan ini butuh pembaharuan. Mohon saran dan kritiknya. Terimakasih.



0 Komentar