Ini adalah cerita pengalaman saya sewaktu kecil tentang kucing yang membuat saya trauma, namun sekali waktu trauma saya yakni takut dan benci terhadap kucing berubah menjadi rasa iba dan rasa takut itu hilang.
Kucing adalah salah satu hewan yang disukai banyak orang, karena itu kucing merupakan salah satu hewan peliharaan di rumah. Kucing yang merupakan satu-satunya hewan yang dapat mendengkur ini menjadi banyak disukai karena lucu, dan menggemaskan.
| Ilustrasi kucing dalam keranjang. Sumber: Pexels of Pixabay |
Bagi umat muslim, mereka juga sungat menyukai hewan ini. Karena kucing merupakan salah satu hewan yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad SAW.
Cerita pengalaman tentang trauma dan takut dengan kucing ini mungkin tidak banyak orang mengalami, atau bisa jadi pengalaman saya tentang takut dengan kucing justru hanya saya yang mengalami, saya tidak tahu.
Dikesempatan ini saya hanya berbagi tentang cerita pengalaman saya, dari trauma dan takut terhadap kucing hingga iba dan tidak takut lagi. Mungkin cerita pengalaman ini bisa menjadi pembelajaran atau cara terhadap kita bagaimana agar tetap mencintai binatang ataupun hewan misalnya kucing.
Baik, cerita pengalaman tentang kucing kita mulai! Dan saya sebutkan bawa cerita ini murni saya alami pribadi dan bukan rekayasa. Saya juga menyampaikan mohon maaf terlebih dahulu jika cerita pengalaman saya takut dengan kucing ini tidak begitu menarik ataupun penyusunan kalimat yang tidak teratur, karena saya bukanlah seorang penulis. Saya hanyalah penulis amatir yang terdesak hanya hanya untuk berbagi tentang pengalaman cerita kucing ini.
_____
Sewaktu kecil, saya bukan tipe orang yang menyukai segala jenis hewan termasuk kucing. Meskipun begitu saya juga tidak membenci hewan termasuk juga kucing.
Sebenarnya, sejak kecil juga saya sudah terbiasa dengan keberadaan kucing dirumah. Karena ibuku juga memelihara kucing dirumah. Kucing yang kami pelihara ini sangat dicintai karena sifat uniknya yang bisa membantu memberi kabar baik ataupun buruk.
Dulu, kakak laki-lakiku adalah seorang perantau. Karena kami tinggal disebuah desa kecil. Tidak ada sinyal telepon, dan cara bertukar kabar hanya bisa melalui surat saja sehingga untuk mengirim atau menerima surat dari kota membutuhkan waktu yang lama bahkan lebih dari satu bulan.
Sedangkan kucing yang kami pelihara uniknya adalah dia sebagai kucing yang pandai. Kucing itu selalu memberi petunjuk. Contoh, jika dia banyak bermain hingga lompat-lompat di dalam rumah melebihi kebiasaannya berarti sebentar lagi akan ada kabar baik dari kakakku yang merantau. Jika banyak meraung bahkan bersuara seperti olok-olokan biasanya ada pertanda makhluk halus/gaib di dalam rumah, dan masih banyak lagi.
Meskipun begitu, saya bukan orang yang tidam terlalu peduli dengan binatang. Saya selalu masa bodoh, dalam pikiran saya dimasa kanak-kanak itu adalah yang penting saya tidak menyakiti atau melukai hewan. Karena orang tua kami selalu mengingatkan, kita boleh benci kepada hewan atau apapun, tetapi jangan menyakiti. Jadi, prinsip itulah yang selalu saya pegang kuat hingga dewasa saat ini.
Singkat cerita, suatu ketika saya sedang tertidur. Ketika itu usia saya sekitar 10 tahun. Tiba-tiba seekor kucing melompat kearah muka saya yang sedang tidur, kata ibuku kucing itu sepertinya hendak menangkap cicak di dinding. Tapi ibuku tidak terlalu memperhatikan itu. Akhirya tanpa sengaja kucing itu mencakar bibir saya hingga robek dan berdarah. Sejak saat itu awal mula cerita pengalaman saya tentang kucing yang akhirnya membuat trauma dan takut dengan kucing.
Meski takut dan benci dengan kucing, lagi-lagi saya tidak pernah menyakiti kucing. Kalaupun kucing ada dirumah dan mendekati saya, maka saya akn pindah tempat dan pergi dari sana.
Ditahun-tahun pertama,merupakan tahun yang tersulit bagi saya takut terhadap kucing. Karena orang tua saya memelihara kucing, sedangkan saya tidak suka dengan kucing. Namun, saya tetap berusaha belajar dan menerima.
Suatu ketika, kucing di rumah kami meninggal karena suatu penyakit. Pada akhirnya saya memutuskan bicara dengan ibu saya, "tolong jangan pelihara kucing lagi. Saya tidak suka kucing". Untungnya tanpa penjelasan panjang lebar ibu daya dapat memahami maksud saya dan sejak saat itu ibuku tidak memelihara kucing lagi.
Suatu ketika setelah saya masuk SMP, saya bertemu denga teman-teman baru. Dan ternyata mereka seua banyak yang tidak bisa memahami bahwa seseorang bisa memiliki rasa trauma dan takut terhadap sesuatu. Bagi mereka adalah hal lucu dan konyol. Jadi sejak saat itu hingga saya SMA saya tidak pernah jujur bahwa saya takut dengan kucing, dan mereka tidak pernah mengetahuinya.
Puncaknya, saat saya menduduki bangku kuliah. Akibat mungkin saya terlalu memendam rasa takut saya terhadap kucing, akhirnya penyakit saya tidak suka dengan kucing menjadi-jadi. Yaitu saya bahkan tidak suka dengan boneka yang berbulu panjang, saya juga tidak suka dengan aroma atau bekas kucing disekitar saya.
Suatu ketika ada seekor kucing masuk dan tidur di dalam kamar kos saya, karena tidak sengaja saya lupa menutup pintu. Dan pada malam itu juga segera saya bergegas mengepel lantai tengah malam.
Setelah berlarut dengan kebencian terhadap kucing, hingga sampai pada momen yang membuat saya merasa iba dan akhirnya kasihan terhadap kucing.
Suatu ketika saya pindah tempat kos, karena kos-an saya sebelumnya akan di renovasi pemiliknya.
Ternyata di tempat kos baru saya banyak kucing liar yang bisa saja keluar masuk di siang hari. Sebenarnya di tempat kos baru saya ada penjaga khusus kos ini tapi beliau juga mengambil kerja sampingan di pasar. Jadi kadangkala sejak subuh sudah harus kepasar hinga sore. Jadi, kucing liar di sekitar tempat kos sering keluar masuk di dalam lobi kos-an. Beberapa penghuni kos pasti akan mengusirnya karena takut kucing akan membuang kotoran di dalam kos.
Jujur saja, termasuk juga saya salah satu orang yang sering mengusir kucing dari dalam kos. Tapi, syukurnya saya hanya pakai tradisi lama, cara mengusirnya begini: hus.. Hus... Hus.. ,,, (hahahha)
Suatu ketika ada seekor kucing betina yang sedang hamil, juga dengan 3 ekor anak kucingnya yang selalu masuk mencari sisa makanan di dalam kos (dapur). Kebetulan saya sedang makan ikan, lalu saya sisihkan sedikit makanan saya untuk para kucing itu da saya berikan di samping tong sampah di luar kos.
Tujuannya agar saya tidak berselisih paham dengan penghuni kos lainnya karena memberi makan kucing di dalam kos dan membuat para kucing tersebut terbiasa untuk masuk, sehingga setiap kali beberapa kucing itu datang saya selalu memberinya makan di dekat tong sampah di luar.
Awalnya saya kasihan karena kucing tersebut sedang mengandung, kadang-kadang saya melihat induk kucing tersebut terkulai lemas dibawah jendela dan mungkin lapar.
Pada saat itu sebenarnya rasa takut saya terhadap kucing belum hilang, namun rasa kasihan saya terhadap kucing lapar juga terlalu besar. Sehingga memberi makan kucing di samping tong sampah diluar kos saya seakan sudah menjadi kebiasaan tiap hari.
Lalu suatu ketika, salah satu anak kucing dari Induk kucing yang sedang mengandung itu terguyur hujan deras saat tengah malam. Kucing itu sepertinya berusaha masuk kedalam kos, tapi apa daya sayapun tidak dapat membantu karena kondisinya sudah larut malam dan pintu utama kos sudah terkunci.
Keesokan harinya, anak kucing tersebut ditemukan mati didepan pintu. Walaupun hanya seekor hewan, namun hati saya mulai terasa sakit karena menyesal tidak dapat menolong saat itu.
Kemudian anak kucing yang satunya lagi mati karena kelaparan dibawah terik matahari dekat tong sampah. Masih ingat waktu itu saya masuk rumah sakit untuk beberapa hari jadi, anak kucing tersebut tidak ada lagi yang memberinya makan. Lalu, anak kucing ketiga juga hilang karena mati juga atau kenapa.
Beberapa kejadian tersebut membuat hati saya terus merasa iba terhadap kucing dan rasa takut saya mulai hilang. Meskipun saya bisa katakan: saya belum bisa suka dan mencintai kucing, tapi saya sudah tidak memiliki rasa trauma untuk rakut apalagi benci dengan kucing.
Nah, itulah cerita pengalaman konyol saya tentang kucing yang pernah saya alami. Apapun yang anda baca tentang pengalaman saya tentang kucing ini saya berharap anda dapat menyerap maksud saya dan tidak menilai gaya bahasa, tatanan dan aturan penulisan saya. Karena sekali lagi saya bukan penulis.
0 Komentar