Suasana lebaran kali ini, idul fitri jatuh pada 13 Mei 2021. Rasanya memang begitu istimewa karena hari ini adalah hari kemenangan umat Islam. Sayangnya, rasa kebahagiaan ini sedikit terbagi. Sebab, wabah corona yang masih belum usai.
Jujur saja, merayakan lebaran di perantauan tak seindah kembali ke kampung halaman di pulau Binongko. Suasana lebaran disana selalu seru dan berbeda dengan tempat-tempat lain. Bukan karena di Binongko tempat kelahiranku, sehingga menjadi alasan aku memujinya. Tapi karena tradisi lebaran dan kebiasaan kami disini sangat luar biasa dan antusias menyambut jika lebaran tiba.
![]() |
| Ilustrasi lebaran idul fitri. Gambar wanita dan masjid. "Selamat Hari Raya Idul Fitri" |
Perayaan lebaran di pulau Binongko selalu terasa istimewa manakala dimulai dari 1 hari sebelum hari raya Idul fitri.
_________________
Baca juga:
__________________
Ditempat saya, di Palahidu tepatnya lingkungan Kuwa. 1 hari sebelum lebaran itu ada tradisi mandi-mandi, lalu ada pagi hari sebelumnya ada tradisi potong hewan.
Jelas dong terasa berbeda dengan tempat lain. Tradisi potong hewan ini seperti srbuah ritual yang harus dilakukan bersama-sama. Jadi, kita beramai-ramai di satu tempat untuk memotong hewan bersama-sama. Ada yang memotong kambing, ayam, sapi juga kalau ada.
Nah selain itu, sebagian yang lainnya juga ada yang berziarah kubur, membawa linggis, sapu atu parang juga buat bersih-bersih di makam keluarga mereka.
Lalu setelah itu, para anak muda menentukan perencanaan untuk acara mandi-mandi nya. Biasanya kita memilih tempat permandian yang bagus untuk dikunjungi bersama.
Belum lagi, setelah besoknya usai melaksanakan sholat Idul Fitri tugas seru kita belum selesai. Kita juga saling berkunjung ke tetangga dan salaman serta maaf-maafan, lanjut ada tradisi polelei, kemudian acara mansa atau silat mansa, malamnya acara joget. Huh, seru deh!
Momen indah seperti ini terasa sesak untuk dikenang bila tak bisa pulang kampung. Aduh sayang, kita juga harus mematuhi aturan pemerintah seperti larangan mudik, protokol kesehatan, dll terkait dengan upaya pemutusan rantai covid-19 ini.
Tapi, untuk susana Covid-19 seperti ini, apa kabar ya situasi lebaran di Binongko?
Kabarnya, tahun lalu Binongko menjadi mendadak sepi di Hari Raya Idul Fitri dan tak ramai seperti biasanya sebab adanya wabah Covid-19. Ketika aturan jaga jarak masih berlalu tentang protokol kesehatan, otomatis kegiatan dan kerumunan ditengah perayaan idul Fitri itu ditiadakan.
Tidak ada acara polelei, tidak ada acara joget, tidak ada huru-hara, tidak ada apapun itu.
Yah, kita tidak bisa menyalahkan siapapun karena musibah ini. Harusnya kita bisa mengambil hal positif-nya dengan banyak instrospeksi diri, bertaubat, dan meningkatn amalan soleh.
Lalu, gimana nih dan apa kabar suasana lebaran di pulau Binongko tahun ini 2021?
Iya benar, aturan protokol kesehatan tetap berlaku disana. Tapi syukurnya pengawasan tak seketat dulu ditahun 2020 sebelumnya. Interaksi warga tidak begitu dilarang asalkan tahu jarak aman dan tetap memakai masker.
Bagaimana dengan tradisi polelei yang selalu jadi momen istimewa di kala lebaran tiba di pulau Binongko? Wah ternyata tidak. Anjuran baikya ternyata lebih baik #dirumah aja.
Oke deh, tidak ada polelei juga tidak apa-apa. Katanya, Acara potong hewan kemarin berjalan lancar kok, tidak ada pembatasan dan para pembeli daging juga tidak mengeluh banyak soal covid-19. Mungkin, kesadaran masyarakat juga soal protokol kesehatan sudah jauh lebih paham ya setelah setahun ini kita dilanda Covid-19.
Lanjut, acara mandi-mandi gimana? Oh tidak ada katanya. Ya sudah apa yang harus dipermasalahkan. Acara itu juga hanyalah sebuah kebiasaan anak muda saja untuk menyambung silaturahmi di kala lebaran tiba. Dihilangkan sejenak lebih baik demi kebaikan kita bersama. Artinya, cara menyambung silaturahmi itu bisa dilakukan dengan apa saja.
Lalu, gimana nih! Ada takbir keliling ngk? Dengar kabarnya dari kampung takbir keliling juga tidak ada. Takbir di mesjid saja.
Hmm... Suasana di lebaran di Binongko memang tak seindah biasanya. Lebih sepi dari biasanya. Covid-19 memang banyak merubah segalanya. Tapi jika disadari dari segi positifnya, mungkin Tuhan lebih menganjurkan kita lebih dekat dengan keluarga dirumah saja.
______________
Baca lainnya:
______________
Saya, Alfin Alfianto yang sudah 2 tahun tidak mudik karena Covid-19 hanya sanggup bertanya-tanya dan rindu apa kabar suasana lebaran di Pulau Binongko tahun ini?
Saya mendengar banyak dari jawaban orang-orang terdekat disana seperti teman dan keluarga. Suasana lebaran di Binongko tahun ini memang tak seramai dan se-seru tahun-tahun sebelumnya.
Meski tak sehening tahun lalu di 2020, tapi jelas saja tak seramai tahun-tahun sebelumnya juga di 2021 ini. Untungnya semangat menikmati kambing gulai dan opor ayam belum pudar, hehe.
Memang tradisi lebaran dimana-mana termasuk kampung saya di Binongko juga lekat kok dengan hidangan daging. Apalagi lebaran ini adalah momen istimewa menyajikan aneka olahan daging, kue-kue, dll.
Rindu memang rindu, sayangnya aku hanya menikmati keseruan berkumpul lewan video call. Syukurlah jaman sudah canggih. Tak pulang pun, masih bisa kok lihat senyum orang tua dan keluarga dari balik ponsel disana dan aku disini lewat aplikasi zoom, WA juga.


0 Komentar