Pesta rakyat telah usai, rumah dan kantor perlu di urus kembali. Tiadakalah koar-koar bising tak beraturan demi memuja dan memuji satu pihak. Satu langkah telah ditempuh, pemilu telah berakhir, hasil telah ada dan mari kita berangkulan bersama lagi menuju keseragaman kita membangun daerah tercinta kita. Apapun dan siapapun, hasil pemilu kita adalah untuk kita semua.
✋Baca lainnya : TOP 4 Lagu terbaik untuk Joget Lulo Wakatobi 2021
- Baca juga: Top 5 Lagu Joget Wakatobi 2021 versi BBo
![]() |
| Sumber: pixabay/mohamed_hassan |
Pemilihan bupati Wakatobi kemarin telah usai, tepat tanggal
9 Desember 2020 disepakati pemilihan berlangsung dan telah berhasil dan selesai. Pasangan calon
Bupati yakni dengan hasil keputusan sebagai berikut:
| sumber: wikipedia |
- Baca juga: Jin Dan desa yang hilang di Pulau Binongko- Jejak misteri pulau Biningko, Wakatobi
- Baca juga: Tradisi Polelei Di pulau Binongko Wakatobi
Menurut opini pribadi saya.
Pemilihan legislative dan pemilihan Bupati semacam ini memang lebih banyak
memicu antusiasme warga sebagai pendukung para calon daripada pemilihan calon
presiden. Karena umum yang terlihat bahwa mereka para calon adalah tidak
jauh-jauh dari kerabat mereka sendiri, sekampung halaman, dan para calon sangat
digadang-gadang akan membawa perubahan besar pada daerahnya. Lucunya, para
pasangan calon mungkin sedang mempersipakan kematangan diri dalam pemilihan
nanti atau sedang banyak berdoa dirumah, justru para pendukunglah yang heboh
mempertahankan paslonnya masing-masing. Takkala ada yang melempar sindiran,
dll.
Atas hal demikian, okelah wajar-wajar sajo kok. Ini kan pesta demokrasi bro, pesta rakyat bro, gue yang pesta kenapa lo yang panas, hehe
Yah, oke. Benar juga. Selama
masih dalam prosedur yang benar, cara yang benar silahkan saja. Asal tau juga
dong batasannya. Jika pesta telah usai, menang kalah hal lumrah dan mari
berlapang dada dan berbesar hati dan saling merangkul kembali. Tidak ada lagi
soal tim A dan tim B, kita adalah Wakatobi.
HALO, halo apa kabar Hati Nurani kita?
Pada pemilihan bupati beberapa
bulan lalu di Wakatobi, diikuti oleh 2 pasangan calon dengan masing-masing
ikonnya yakni pasangan HALO dan HATI. Pasangan HALO oleh H. Arhawi dan Hardian
La Omo, sedangkan pasangan HATI oleh H. Haliana dan Ilmiati Daud. Dua pasangan
ini memang memiliki banyak pendukung dan tidak kalah pentingnya para pendukung
ini benar-benar sangat antusias memperebutkan keduanya.
Sayangnya pesta telah usai,
harusnya tidak ada lagi persoalan kubu merah dan kuning, tidak ada lagi istilah
01 atau 02. Mari kembali, kita adalah Wakatobi. Namun beberapa sumber masih
nyaring bunyinya, entah dari kubu mana atau kah mereka yang amat senang dengan
pesta pora yang tak ingin usai serta propaganda. Masih ada kata sindirin, kalimat menyinggung
juga kadang terdengar samar. Lebih lagi, ternyata hasil putusan dari real quick
coutt dan hitung cepat dari KPU malah menuai gugatan atas tuduhan hali
perolehan yang tidak sah terhadap pasangan HATI. Ya sudah, tunggu saja hasilnya. Yang menuntut berhak melakukan, dan mereka punya dasar alasan bagi mereka sendiri. Yang dituntut, okelah. Hadapi dengan segala langah terbaik. Kebenaran akan menunjukan hasilnya sediri. Mari kita saling mendoakan untuk tujuan dan kepentingan kita bersama yang lebih baik. Karena wakatobi dibangun bukan untuk keluarga dan pendukung HATi atau HaLo, tapi untuk kita semua.
Begitupun pendukung pasangan HATI jelas bersih kukuh, kok di gugat. Toh kita menang dan benar toh. Lalu, singgungan lainnya di tepis lagi oleh pendukung HALO, itu kan tidak sah. Perbedaaan suara tidak relevan. Makanya kami tuntut. Dan sebelumnya jangan lupa bahwa dua kalimat ini hanya ilustrasi pribadi saja
Sebanarnya bukan ini yang saya maksud. Artikel saya dalam
blog ini pun tidak bermaksud apapun. Tapi wajar kalau saya heran. Ini pemilu
kok kayak taruhan yok. Halo, apa kabar hati nurani kita. Mari kita bicara soal
pembangunan negeri kita, daerah kita wakatobi. Pesta telai usai toh, yao wes,
yuk mari bergandengan. Jangan ada lagi yang gemar posting di media social
tentang kesalahan si A dan si B. baiknya si A dan buruknya si B begitupun
sebaliknya. Jangan ada lagi bunyi nyaring soal pemilu dan pemilihan kubu.
Jangan ada lagi yang bicara soal intimidasi, singgung-menyinggung malah pecah belah
kerukunan kita.
Halo, halo apa kabar hati nurani kita. Coba Tanya hati kita
dengan ketulusan hati yang sebenar-benarnya hati nurani yang kita punya. Kita
menginnginkan perubahan toh untuk negeri ini. Ya sudah, kesahalan pemimpin
dimasa lalu mari kita saling membantu mengubahnya menjadi langkah yang benar.
Tanya lagi dan ketuk lagi hati kita. Halo, apa kabar hatiku.
Perbedaan itu wajar. Dan setiap oang berhak untuk memilih. Manusia yang bijak
bukan yang selalu bicara kebenaran tapi yang mengerti kesalahan dan mengubahnya
lebih baik. Insan yang baik bukan mencari-cari sumber pembenaran, tapi yang
mampu mengayomi dan saling merangkul, jalan bersama dan tujuan kita bersama.

0 Komentar